Jumat, 11 Januari 2013

Perbincangan Imajiner

           Aku beruntung, terlahir di keluarga yang indah dan di negeri yang luar biasa; Indonesia. Aku udah kelewat cinta dengan negeri yang satu ini. Negeri yang tanahnya tak pernah mengeluh walau tiap saat kupijak, negeri yang udaranya tak pernah habis dan selalu siap untuk kuhirup,  negeri yang jernih air pegunungannya masih bisa kunikmati sampai saat ini. Dan lagi, negeri ini membuatku takjub dengan  menunjukan sebuah lukisan perpaduan jingga dengan biru laut, ya.. senja yang indah di bumi Indonesia.
Indonesia pernah singgah di mimpiku pada suatu malam. Di mimpiku, aku melihat dua orang laki-laki; laki-laki yang pertama memakai pakaian seperti adat jawa, berperawakan sedang dengan kulit sawo matang, di dada kanannya ada tulisan “INDONESIA” dengan lencana garuda di kerah kirinya. Sedangkan laki – laki yang kedua memakai kemeja dengan hidung yang sepertinya telah mengalami pemancungan (operasi plastik), dan di dada kanannya ada tulisan “Indonesia” tanpa lencana garuda di kerahnya.
Kedua laki – laki itu tampak berbincang – bincang, dan aku mencoba untuk mengetahui apa isi perbincangan mereka [kepo banget :p]
INDONESIA        : “hai, bagaimana kabarmu ?”
Indonesia            : “I’m fine, masih bahagia dengan berbagai teknologi yang mutakhir disertai globalisasi yang pesat. Anak – anak ku bermain  game digital yang realistis, masyarakatku bisa berkomunikasi dengan siapa saja dibelahan dunia mana saja. Hebat bukan ?”
INDONESIA        : “oh ya ? sepertinya kau meninggalkan beberapa bagian. Anak – anak mu yang selalu bermain game digital menjadi anak yang individualis karena hanya tangan dan matanya saja yang berkerja tanpa berinteraksi langsung dengan teman – temannya. Lalu masyarakatmu yang barusan kau bilang ‘bebas berkomunikasi dengan siapa saja di belahan dunia mana saja’ bisa dengan mudah terkontaminasi oleh budaya – budaya buruk bangsa luar karena ketidakmampuan mereka dalam menyaring budaya luar; Phone Sex contohnya. Apa itu yang kau bilang hebat ?”
Indonesia            : (menghela napas) “hebat. Karena bagiku bangsa yang mengikuti perkembangan zaman adalah bangsa yang maju”


INDONESIA        : “memang benar, tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai ciri khas, bukan bangsa yang asal ngikut perkembangan zaman tanpa menyaring budaya yang masuk. Kukira bangsa ini belum cukup siap untuk menerima arus globalisasi yang kuat. Banyak diantara anak – anak kita yang salah memanfaatkan teknologi; mengakses video porno contohnya”
Indonesia            : “kalau ada kasus yang seperti itu, jangan salahkan globalisasi. Salahkanlah orang tua mereka yang kurang mengawasi anak – anak mereka, dan orang tua yang tidak memberikan bekal agama yang cukup.”
INDONESIA        : “benar juga yah. Teman pergaulan dan tokoh idola juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi anak – anak. Bagaimana dengan anak – anakmu ? mengidolakan siapa mereka ?”
Indonesia            : “anak – anakku ada yang mengidolakan boyband korea, ada sebagian dari mereka yang sampai mengamuflasekan dirinya menjadi orang korea. Ada lagi yang mengidolakan penyanyi dan artis – artis eropa, menurut mereka orang eropa itu perfect dengan hidung mancung kulit putih dan badan yang tinggi.”
INDONESIA        : “aku prihatin dengan anak – anakmu..”
Indonesia            : “kenapa ? bukankah itu hak mereka untuk mengidolakan siapa saja ?”
INDONESIA        : “iya memang betul, aku juga tidak melarang, tapi bukankah lebih baik kalau mereka mengidolakan dan memberikan rasa kagum mereka kepada orang – orang yang tepat. ”
Indonesia            : “contohnya siapa ?”
INDONESIA        : “menurutku seharusnya mereka mengidolakan kanjeng nabi Muhammad, dia orang yang paling suci di dunia ini, kan?. Atau wali songo, tanpa mereka mungkin anak- anak kita gak bisa merasakan luarbiasa nya Islam dan melihat indah nya wanita berjilbab. Atau jendral Sudirman yang mati – matian berkorban untuk dapetin satu kalimat ‘INDONESIA yang Merdeka’.
Indonesia punya banyak orang yang tepat untuk menjadi idola. Indonesia punya banyak pahlawan. Bila Amerika punya ‘The Avengers’ Indonesia punya ‘Pandawa Lima’, bila India punya ‘Mahatma Ghandi’ Indonesia punya ‘Soekarno’, bila Libanon punya ‘Kahlil Gibran’ Indonesia punya ‘Chairil Anwar’.” [ing]
-o0o-
Gunung Kidul, Desember  2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar