Aku beruntung,
terlahir di keluarga yang indah dan di negeri yang luar biasa; Indonesia. Aku
udah kelewat cinta dengan negeri yang satu ini. Negeri yang tanahnya tak pernah
mengeluh walau tiap saat kupijak, negeri yang udaranya tak pernah habis dan
selalu siap untuk kuhirup, negeri yang
jernih air pegunungannya masih bisa kunikmati sampai saat ini. Dan lagi, negeri
ini membuatku takjub dengan menunjukan
sebuah lukisan perpaduan jingga dengan biru laut, ya.. senja yang indah di bumi
Indonesia.
Indonesia
pernah singgah di mimpiku pada suatu malam. Di mimpiku, aku melihat dua orang
laki-laki; laki-laki yang pertama memakai pakaian seperti adat jawa,
berperawakan sedang dengan kulit sawo matang, di dada kanannya ada tulisan
“INDONESIA” dengan lencana garuda di kerah kirinya. Sedangkan laki – laki yang
kedua memakai kemeja dengan hidung yang sepertinya telah mengalami pemancungan (operasi plastik), dan di
dada kanannya ada tulisan “Indonesia” tanpa lencana garuda di kerahnya.
Kedua
laki – laki itu tampak berbincang – bincang, dan aku mencoba untuk mengetahui
apa isi perbincangan mereka [kepo banget
:p]…
INDONESIA
: “hai, bagaimana kabarmu ?”
Indonesia :
“I’m fine, masih bahagia dengan berbagai teknologi yang mutakhir disertai
globalisasi yang pesat. Anak – anak ku bermain
game digital yang realistis, masyarakatku bisa berkomunikasi dengan
siapa saja dibelahan dunia mana saja. Hebat bukan ?”
INDONESIA : “oh
ya ? sepertinya kau meninggalkan beberapa bagian. Anak – anak mu yang selalu
bermain game digital menjadi anak yang individualis karena hanya tangan dan
matanya saja yang berkerja tanpa berinteraksi langsung
dengan teman – temannya. Lalu masyarakatmu yang barusan kau bilang ‘bebas
berkomunikasi dengan siapa saja di belahan dunia mana saja’ bisa dengan mudah
terkontaminasi oleh budaya – budaya buruk bangsa luar karena ketidakmampuan
mereka dalam menyaring budaya luar; Phone Sex contohnya. Apa itu yang kau
bilang hebat ?”
Indonesia :
(menghela napas) “hebat. Karena bagiku bangsa yang mengikuti perkembangan zaman
adalah bangsa yang maju”
INDONESIA : “memang
benar, tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai ciri khas, bukan
bangsa yang asal ngikut perkembangan
zaman tanpa menyaring budaya yang masuk. Kukira bangsa ini belum cukup siap
untuk menerima arus globalisasi yang kuat. Banyak diantara anak – anak kita
yang salah memanfaatkan teknologi; mengakses video porno contohnya”
Indonesia :
“kalau ada kasus yang seperti itu, jangan salahkan globalisasi. Salahkanlah
orang tua mereka yang kurang mengawasi anak – anak mereka, dan orang tua yang
tidak memberikan bekal agama yang cukup.”
INDONESIA :
“benar juga yah. Teman pergaulan dan tokoh idola juga menjadi salah satu faktor
yang mempengaruhi anak – anak. Bagaimana dengan anak – anakmu ? mengidolakan
siapa mereka ?”
Indonesia :
“anak – anakku ada yang mengidolakan boyband korea, ada sebagian dari mereka
yang sampai mengamuflasekan dirinya menjadi
orang korea. Ada lagi yang mengidolakan penyanyi dan artis – artis eropa,
menurut mereka orang eropa itu perfect dengan hidung mancung kulit putih dan
badan yang tinggi.”
INDONESIA :
“aku prihatin dengan anak – anakmu..”
Indonesia :
“kenapa ? bukankah itu hak mereka untuk mengidolakan siapa saja ?”
INDONESIA :
“iya memang betul, aku juga tidak melarang, tapi bukankah lebih baik kalau
mereka mengidolakan dan memberikan rasa kagum mereka kepada orang – orang yang tepat. ”
Indonesia :
“contohnya siapa ?”
INDONESIA :
“menurutku seharusnya mereka mengidolakan kanjeng nabi Muhammad, dia orang yang
paling suci di dunia ini, kan?.
Atau wali songo, tanpa mereka mungkin anak- anak kita gak bisa merasakan luarbiasa nya Islam dan melihat indah nya wanita
berjilbab. Atau jendral Sudirman yang mati – matian berkorban untuk dapetin satu kalimat ‘INDONESIA yang Merdeka’.
Indonesia
punya banyak orang yang tepat untuk menjadi idola. Indonesia punya banyak
pahlawan. Bila Amerika punya ‘The Avengers’ Indonesia punya ‘Pandawa Lima’,
bila India punya ‘Mahatma Ghandi’ Indonesia punya ‘Soekarno’, bila Libanon
punya ‘Kahlil Gibran’ Indonesia punya ‘Chairil Anwar’.” [ing]
-o0o-
Gunung
Kidul, Desember 2012